Malam minggu tempo hari saya bersama Pandu berencana menghabiskan malam di luar. rencana awal kami hendak mengunjungi satu-satunya pusat perbelanjaan di kota Gresik, Ramayana. Tapi apa mau dikata ternyata Ramayana penuh sesak oleh manusia. Parkiran yang biasanya lengang pada malam itu tampak penuh, bahkan seberang jalan pun digunakan sebagai sarana tempat parkir. Batal rencana awal saya untuk bermain bersama di Ramayana. Dengan sedikit terpaksa kami berdua melanjutkan perjalanan ke alun-alun kota Gresik. Tempat biasa, bedanya kali ini saya tidak membawa laptie yang artinya tidak berencana online di sana.

Sepeda motor diparkir, rencana awal saya mencari rokok merk aneh titipan Handoko, seorang kolektor rokok pemula dari Jakarta. Kami berjalan menyusuri para pedagang, macam-macam pedagang hadir di sana. Dari mulai perkakas rumah tangga buatan Pandeglang sampe sepatu tiruan merk terkenal, dari petasan sampai jagung bakar semua ada di sini.

Mata kami tertarik pada pusat keramaian di tengah alun-alun, tepat di muka air mancur. Tanpa pikir panjang, dengan segera kamipun langsung menghampirinya, penasaran. Dibantu penerangan sebuah petromak, beralaskan terpal jingga seorang yang terlihat sudah berumur tampak menghadapi dua buah papan catur yang dipasang paralel lengkap dengan biji catur yang disusun pola tertentu. Tulisan menggunakan spidol di atas karton berlapis kertas semakin memperjelas keberadaan pria setengah tua di sana, “Tiga Langkah Mati”, jelas, lugas, dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mungkin akan menakutkan jika kalimat tersebut kita dapati di tempat lain, tapi di situ pusat perhatianlah yang didapatkan.

Dua bungkus rokok. Dengan Rp.3000,00 sebagai biaya pendaftaran mengikuti sayembara tersebut seseorang bisa mendapatkan dua bungkus rokok jika berhasil men-skak-mat raja hitam. saya hanya memperhatikan dari “batas melihat” tanpa berani lebih mendekat, sungkan. Terhitung sudah dua orang lelaki setengah baya yang mencoba sayembara ini, dua-duanya tidak berhasil, nihil. Sempat terlintas di pikiran saya, posisi bidak-bidak catur tidak memungkinkan putih untuk memenangkan pertandingan, tapi seketika itu juga sang empunya hajat membalik karton yang lainnya. “Jika ingin bukti Rp.20.000,00” cukup membuktikan bahwa pak tua tidak menipu, jika ada yang menuduh ia penipu, bayar dulu Rp.20.000,00. Begitu kira-kira arti tulisan di karton itu.

Cukup unik memang cara pak tua mencari nafkah, bermodalkan rokok beberapa bungkus dan segudang doa berharap malam itu tidak ada satu pun orang yang berhasil memecahkan misterinya, tapi banyak yang mencoba. Duduk bersila, berbaju batik coklat tua, dengan sebatang rokok menyala di tangan sesekali dihisapnya, klepas…. klepus….. santai sekali. Saya sendiri tidak terlalu pandai bermain catur, lebih sering kalahnya. Selain itu uang Rp.20.000,00 masih terasa sayang saya keluarkan hanya demi mengatahui rahasia si bapak tua. Toh saya percaya beliau tidak menipu…