You are currently browsing the monthly archive for Oktober, 2008.

‘lo masih bisa mencintai walau bukan sebagai pacar kok kis. cinta itu flexible, keegoisan manusia aja yang kadang meracuni’

Pernyataan yang luar biasa tentang cinta, dari seorang kawan yang saya kenal suka nyela, bercanda, dan hal-hal tidak serius lainnya.
Read the rest of this entry »

Di tengah perbincangan tentang pendidikan tinggi di Indonesia yang katanya para lulusannya banyak yang tidak valid saya akan sedikit mengulas mengenai hal-hal yang saya ketahui tentang perjokian ujian masuk. Salah satu cara yang lumayan banyak dilakukan oleh para calon mahasiswa yang berduit dan tidak mau mengeluarkan usaha untuk meraih mimpinya mengikuti kuliah di perguruan tinggi yang bonavide. Atau mungkin kurangnya percaya diri sang calon terhadap kemampuannya mengerjakan soal-soal pilihan ganda yang tercetak pada selembar kertas daur ulang.
Read the rest of this entry »

Istirahat siang tadi tergeletak sebuah surat di atas meja ruang tamu, amplop putih dengan alamat lengkap. Dalam hati bertanya-tanya, surat dari siapakah? Surat kaleng, pada bagian belakang hanya menyebutkan kota asal. Jakarta. Hm… apakah surat cinta dari nyonya tercinta, ataukah surat tagihan utang dari seorang teman? Hati terasa berdebar-debar, entah apa isi di dalamnya. Kata-kata cinta kah? Ancaman kah? Pemerasan kah?
Read the rest of this entry »

Yak.. benar sekali, SMU saya sekolah dulu akan mengadakan reuni emas, atau dengan kata lain reuni 50 tahun. Ah, sudah tua juga ternyata SMU saya berdiri, sudah banyak lulusan-lulusan yang luar biasa seperti saya ini. Walaupun lumayan badung dan sering mbolos, tapi saya termasuk siswa yang baik hati, gemar menabung, menyiram bunga, tampan rupawan, ganteng luar biasa. Hanya bisa menyampaikan kepada para panitia “Semoga sukses buat acaranya.”
Read the rest of this entry »

Terjaga di antara cahaya bulan separuh yang menyeruak masuk melalui celah kaca jendela. Dini hari, hampir pagi, masih ditemani cahaya bintang yang paling terang, bintang benderang.
Read the rest of this entry »

Menilik jalan-jalan di ibukota saat lepas tengah malam, di tepian protokol di antara sampah rumah tangga yang tampak sudah melebihi kapasitas. Mereka sekeluarga bekerja mencari sisa-sisa dari para orang kaya. Ya, keluarga dalam arti yang sebenarnya, suami-istri dengan dua anak. Terbersit dalam benak mereka tentang keluarga berencana, sudah diikuti anjuran petinggi negara, tapi entah mengapa kemiskinan tak juga hengkang dari hidup mereka.
Read the rest of this entry »

BN:”Kis, bangun… mau ikut ga?”
KH:”…”
BN:”Kamu mau ikut ga? Berenang”
KH:”Heh… mau mau.”
Read the rest of this entry »