Terjaga di antara cahaya bulan separuh yang menyeruak masuk melalui celah kaca jendela. Dini hari, hampir pagi, masih ditemani cahaya bintang yang paling terang, bintang benderang.

Entah karena apa secara tiba-tiba sesak di dada, hati terasa berat, otakku buntu, bibirku kelu, dipikiranku hanya satu, nyonya tercintaku.

Kutarik nafas panjang, kuhembuskan perlahan. Mencoba berfikir jernih tentang semua gejala yang ku alami. Kudapatkan satu jawaban.

Kerinduan…

Akan binar matamu dan cahaya wajahmu.
Akan manis senyummu dan renyah tawamu.
Akan semua pada dirimu.

Ya…
Sangat jelas…
Aku merindukanmu…
Nyonya tercintaku…