Istirahat siang tadi tergeletak sebuah surat di atas meja ruang tamu, amplop putih dengan alamat lengkap. Dalam hati bertanya-tanya, surat dari siapakah? Surat kaleng, pada bagian belakang hanya menyebutkan kota asal. Jakarta. Hm… apakah surat cinta dari nyonya tercinta, ataukah surat tagihan utang dari seorang teman? Hati terasa berdebar-debar, entah apa isi di dalamnya. Kata-kata cinta kah? Ancaman kah? Pemerasan kah?

Saya buka amplop surat itu, langsung tanpa basa-basi. Tidak dengan hati-hati, langsung saya robek tidak karuan. Sebuah kertas putih dengan KTP di dalamnya. Saya lirik namanya, Kishandono. Ah… saya baru ingat, itu KTP saya sendiri yang memang dikirimkan oleh kakak saya dari Jakarta. Gembira, senang bukan karuan.

Ada kertasnya, berisi tulisan. Sepertinya tulisan dari kakak saya. Sempat berfikir negatif, untuk apa dia menuliskan pesan segala? Saya buka, dan begini bunyinya:

Nih KTP-nya udah jadi.
Sebenernya surat ini formalitas doang
abis kata tukang pos nya gak boleh ngirim KTP doang
kudu ada omong-omongannya, yowes gw tulis deh ni
surat abal-abal, semoga bermanfaat (apasih!?)

Ps: Laminating sendiri ya…
Tak dilaminating tanda tak mampu (lbh gak jelas!!)

Yeee… lagi-lagi tulisan ajaib dari dia, seperti bulbo yang dia buat sebelumnya. Langsung saya kirimkan pesan singkat untuknya, berterima kasih karena sudah sudi mengirimkan KTP punya saya.

Sekarang saya sudah punya KTP lagi, bisa buat ngutang di restoran atau keluar masuk hotel… Senangnya!!!!