‘lo masih bisa mencintai walau bukan sebagai pacar kok kis. cinta itu flexible, keegoisan manusia aja yang kadang meracuni’

Pernyataan yang luar biasa tentang cinta, dari seorang kawan yang saya kenal suka nyela, bercanda, dan hal-hal tidak serius lainnya.

Membuat saya berfikir, cara saya mencintai seseorang ternyata telah salah. Ada pamrih di antara cinta yang saya berikan, ingin dicintai… Masih ada syarat yang saya inginkan, memiliki… Tanpa sadar egoisme berperan dan menggerogoti kemurnian cinta ini.

Mencintai seseorang mungkin bisa diibaratkan dengan memelihara burung pipit kecil dalam genggaman, kau pelihara tanpa kau harapkan imbalan, kau pelihara hanya karena kau ingin, hanya karena kau suka, hanya karena kau cinta. Dengan hati-hati kau genggam, menjaganya agar tidak jatuh. tidak menggenggamnya dengan erat, karena akan ada yang tersakiti jika itu terjadi.

Pada akhirnya terserah sang pipit akan bagaimana, jika nyaman tentu ia akan menetap. Jika tidak, tentu saja ia akan terbang. Dan kau hanya bisa tersenyum melihatnya, bahkan jika ia meninggalkan kotoran dalam genggaman. Tersenyum karena keyakinan ia akan bahagia di sana.

Mencintai tanpa pamrih, tanpa syarat, tanpa imbalan…

Mungkin sudah kutemukan cinta sejatiku.