Pandu mengembalikan komik one piece yang ia pinjam beberapa waktu lalu dengan tambahan sebuah bacaan karya Ayu Utami. Sampul kuning dengan gambar pisang terkupas yang dicoret (layaknya rambu-rambu lalu lintas).

“Baca nih kis, ngekek…”

Sidang Susila

Penasaran, saya hentikan kegiatan saya dengan laptie. Saya buka buku kuning tipis itu, berniat membacanya. Singkat, hanya beberapa menit saya selesai membacanya.

Sebuah naskah pentas theater yang dibukukan, dengan berani Ayu Utami mengangkat tema seputaran RUU anti pornografi yang baru saja dijadikan UU oleh para petinggi negara. Banyak sindiran, ungkapan para budayawan serta kemungkinan-kemungkinan yang terjadi apabila RUU tersebut disahkan (yang kini sudah disahkan menjadi UU). Bahkan dilampirkan juga RUU yang diajukan pada tahun 2006 serta revisinya yang diajukan tahun 2007. Ayu Utami menganggap ini adalah “komedi yang sebenarnya”

Suatu bentuk penolakan yang diajukan oleh para budayawan, bahkan pentasnya sudah diadakan di Jogja dan di Jakarta. Kedua pentas tersebut diadakan sebelum RUU berubah menjadi UU, entah besok-besok, bisakah beliau-beliau itu mengadakannya lagi. Semoga bisa, karena saya belum lihat, membaca naskahnya dan membayangkannya saja sudah luar biasa buat saya, apalagi melihatnya di theater, dan di lakoni oleh aktor-aktor ternama seperti Butet dan Djaduk. Pasti lebih luar biasa.

Betapa kebudayaan asli Indonesia begitu terkekang. Tak boleh lagi melukis wanita telanjang, tak boleh lagi memakai kebaya dengan broklat yang terbuka, tak boleh lagi mandi di kali untuk orang miskin, tak boleh lagi pakai koteka, tak boleh lagi wanita pedalaman Papua mengumbar payudara. Dilarang….

Di saat kemiskinan di mana-mana dan korupsi merajalela, masih sempat para petinggi negara mengurusi benda yang setiap manusia punya.