Jarak kita terlalu jauh. Jurang kita terlalu lebar dan teramat dalam. Hanya untuk mendapatkan kupasan mangga dari tanganmu saja harus kutahan berminggu-minggu. Untuk mendengar suaramu harus ku rogoh kocekku lebih dalam. Melihat wajahmu, ku rogoh lebih dalam lagi, itupun hanya separuh, tidak utuh, gerakan lambat, patah-patah. Apalagi untuk menemuimu, perjuangan keras kulalui, capek, lelah dan kantuk yang langsung hilang seketika, raib tak berbekas kala sanggup ku genggam tanganmu, saat kupeluk dirimu dan kukecup keningmu. Walau hanya sesaat, hanya beberapa waktu menunggu keterlambatan pesawat. Perjuangan, pengorbanan, mungkin kecil bagi dirimu, tapi jelas terukir dalam benakku. Tangerang, setahun yang lalu, mungkin lebih. Menanti dirimu, berteman debu dan kuli pasir. Lalu lalang kendaraan besar-besar, entah berapa lama ku menunggu, berapa ratus kendaraan lewat di depanku. Entah mengapa, betapa otakku merekam tiap detail kejadian itu, saat ibu pondokanmu menegurku yang menunggumu di teras depan. Aku langsung pulang. Menyesalkah? Rasa kesal mungkin ada, gondok, sakit hati, tapi bukan penyesalan. Karena ku tahu, itu resikonya. Tetap tersenyum sesampaiku di rumah, ku hubungi telepon genggammu, ‘kis baik-baik saja.’ Ya, tetap tersenyum…