jam menunjukkan pukul sembilan malam, tiba-tiba seorang kawan menawarkan untuk “ngopi” di salah satu tempat. Walaupun sebelumnya sudah menenggak segelas kopi jahe, tetap saja saya terima tawaran tersebut. Padahal siang hari juga disuguhkan kopi di rumahnya. Tapi tak apa lah.

Bertiga kami membelah dinginnya udara malam Jogjakarta, melewati rombongan anak-anak kecil yang berbaris sembari mengumandangkan gema takbir. Sedikit tersendat, menyusuri jalanan nan sempit.

Tidak lama kami sampai di lokasi, warung kopi “ngeban”, begitu tulisan di temboknya. Tidak banyak pilihan kopinya, standard. Saya lihat menunya, tertulis nasi goreng. Tertarik saya untuk mencobanya. Dengan secangkir kopi hitam tentu saja.

Kami memilih lokasi yang cukup terpencil, jauh dari keramaian. Tidak banyak cahaya diberikan, hanya sebuah lilin yang hampir mati, redup. dengan tempat duduk kayu, meja segi enam dengan atap daun kelapa. Kesan desa ditonjolkan, kebetulan seberang sungai memang sawah masih terhampar, walaupun tidak luas.

tidak lama berselang nasi goreng pesanan saya datang, cukup enak karena memang rasa lapar sudah lama menyiksa lambung saya. Habis, tanpa sisa… Kopi yang dihidangkan cukup kental, terasa sekali. Pas, walaupun tidak senikmat kopi toraja yang pernah dihidangkan seorang kawan pabrik, tapi cukup terasa kopinya.

Secara keseluruhan tempat ini layak untuk dijadikan tempat persinggahan. Jika ingin menikmati kopi dengan santai, jauh dari keramaian. Karena lokasi antar pelanggannya cukup berjauhan. Jika anda di Jogjakarta, bisa anda coba.

update!

karena saya tidak tahu alamat pastinya, maka saya gambarkan saja petanya. semoga bermanfaat..

peta ngeban

kalo mau gambar yang lebih gede, klik aja potonya…