Jalan-jalan di situs jejaring sosial semacam facebook kadang membawa memori kita ke saat-saat bersama dengan teman-teman terdahulu kita. Saat bermain sepak bola bersama, naik angkutan umum bersama, bahkan sampai ngobrol dan main gaple bersama.

Itulah yang saya alami ketika melihat seorang teman saya menjadi seorang penulis, sampai melahirkan buku. Buat saya ini sangat luar biasa.

Moko, teman saya sedari SD. Kami sering bersama ketika masa-masa itu. Saya kadang main ke rumahnya, atau dia yang bertandang ke rumah saya. Atau bahkan kami berdua yang singgah ke rumah teman kami yang lain, hanya untuk bermain Nintendo atau Sega. Suguhan Indomie rebus oleh sang tuan rumah kami terima dengan sangat senang hati. Sekarang dia bersama teman-temannya di agenda18 sudah menerbitkan buku terbarunya yang berjudul “Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter”. Bravo buat kalian.

Andai Presiden Kita Sehebat Harry Potter

Sandra, seorang kawan, bahkan bisa disebut saudara saya kala SMA. Striker andalan SMUN 8 Jakarta kala itu, walau tidak sehandal Bilal, namun postur tubuhnya yang tinggi membuat dia lebih berjaya di umpan-umpan lambung. Ah, saya rindu saat-saat selepas pukul 16, saat tiang gawang dari tong sampah sudah tertata, tanda akan dimulainya pertandingan. Bangku kuliah membantunya menemukan jati dirinya, sarjana teknik yang berpolitik. Berpihak kepada rakyat, itu kata-katanya. Semoga akan tetap begitu.

Aris, bocah hitam keriting (setidaknya seperti itu gambaran saya selama saya kenal dengan dirinya). Seorang kawan satu SMP yang juga senang sepak bola. Bersama-sama di mobil bak terbuka sambil teriak-teriak memaki siswa dari SMP lain sering kami lakukan bersama. Memanjangkan celana pendek sampai dipotong oleh guru tata busana, seakan baru kemarin lusa saat-saat itu terjadi, betapa sangat jelas teringat dalam otak. Saat ini, ternyata ia berpuisi. Entah untuk siapa, tapi yang pasti cukup indah dan menginspirasi.

Lama tidak berjumpa, pasti banyak cerita dari kalian wahai para sahabat. Kunantikan pertemuan kita berikutnya.