Pagi itu cuaca cukup cerah, tak tampak segenggam pun awan menghalangi sang surya. Saya sudah memesan segelas kopi susu hangat di Sawin. Warung belakang sekolah kami. Sebenarnya sudah lewat waktu dari kami harus masuk sekolah, tapi kemi memang berencana untuk membolos hari itu. Bolos masal, tercatat sekitar sebelas siswa.

“Itung Pit!” ujar Ryan sembari menggelar kartu domino sisanya yang ada di tangan ke atas meja.

“Tiga tujuh..”

Seperti biasa kami percaya akan kemampuan David yang di atas rata-rata dalam menghitung total biji kartu domino. Entah dari mana ia mendapat kemampuan itu, mungkin karena besar kepalanya yang juga di atas rata-rata besar kepala manusia. Tidak heran kami menjulukinya “Burhan” alias burung hantu.

Dari arah sekolah secara kebetulan saya melihat Bayu sedang berjalan gontai menghampiri kerumunan kami.

“Eh, ada Pak Wicay…” ucapnya santai.

Kami mendengar, tapi tidak ada satupun dari kami yang merubah posisi. Santai, seperti tidak ada apa-apa. Adapun Pak Wicay adalah salah seorang guru di sekolah  kami. Nama aslinya… hm.. maaf saya lupa. Kami tetap melanjutkan kegiatan kami, tetap bercanda, tertawa, mencela, semuanya.

“Kalian… Ayo masuk!!” suara yang kami cukup familiar mendengarnya, guru fisika, wali kelas saya kelas dua.

Tapi tetap… Kami hanya membereskan kartu domino yang berserakan, tetap duduk, tanpa berkata apa-apa, tanpa ada tanda-tanda ingin beranjak dari sana. Tekad kami sudah bulat, cabut.

Butuh perjuangan yang sangat keras yang dibutuhkan oleh Pak Guru yang gemar merokok di belakang Green House untuk menggiring kami masuk ke sekolah. Dengan ancaman akhirnya kami pun masuk ke sekolah. Diminta berkumpul di depan ruang piket. Untuk masuk ke kelas kami disuruh lari mengitari lapangan basket.

“Ga mau pak..” Ryan menolak… “Malu saya, kalo keringetan masuk kelas”

“Terus kamu maunya apa?”

“Mending pulang aja Pak” Ryan tetap bersikeras untuk cabut, luar biasa memang kemauannya. Keras kepala…

Lama kami dibiarkan di sana, sampai habis jam pelajaran pertama. Sampai suatu saat salah seorang guru sadar bahwa keberadaan kami di sana sangat merusak pemandangan, kamipun diminta berkumpul di perpustakaan, entah untuk apa. Bahkan kami tidak langsung menuju perpustakaan, kongkow-kongkow terlebih dahulu di depan kelas 2, entah buat apa. Sampai salah seorang guru lewat dan menegur keberadaan kami. Digiringlah kami menuju perpustakaan.

-bersambung-