You are currently browsing the monthly archive for April, 2009.

Siang itu sang surya seakan meredupkan sinarnya, malu-malu menggantung pucat di atas sekolah kami. Ditutupi awan dengan sangat tak sempurna, bercelah. Di depan IPA tiga, di bangku panjang penuh ukiran nama-nama pasangan, saya dan David sedang merencanakan rencana busuk kami tengah hari nanti. Bolos jam siang, cabut meninggalkan gedung sekolahan. Tak ada alasan penting sebenarnya, hanya ingin merokok dan minum es blewah buatan Emak di Sawin, sangat sederhana. Perencanaannya rumit luar biasa.

Read the rest of this entry »

Aku mengharap sedikit senyum yang Kau punya..
Agar kelam ini tak jadi gelap saja..

senyum-Nya bekerja secara tidak terduga
Hanya tinggal tunggu saja
Dan yakinlah pasti kelam itu akan sirna

Read the rest of this entry »

serasa baru kemarin sore, saat kulihat senyummu sekilas
hanya sekilas tapi cukup membekas
ya, hanya senyum
bahkan tak ada kata-kata di sana, tak ada sapa

Read the rest of this entry »

Hampir tengah hari, sang surya tampak berada pada tempat tertinggi. Tak tersaingi benda langit lainnya, sendirian. Panasnya seakan menghukum kami yang sedang berjalan menuju ruang wakil kepala sekolah. Ruangan yang belum pernah saya masuki sebelumnya, membayangkannya pun tidak pernah.

Read the rest of this entry »

Siang itu sang surya terasa sangat dekat, bersinar tanpa ragu, tanpa malu-malu. Saat itu hawa terasa sangat panas, terlebih di ruangan sempit tanpa AC yang dipenuhi oleh tujuh manusia tanpa adat, ditambah dengan seorang guru kecil bersuara cempreng bukan kepalang. Guru BP, kecil orangnya, hanya separuh lebih tingginya dari Panji. Suaranya, mak… jangan pernah sekali-kali mengajak karaokean dengannya.

Read the rest of this entry »

Di luar sana sang surya mulai terik menyinari, masih tanpa awan yang menghalangi. Di dalam ruangan penuh buku, tujuh manusia ajaib dengan latar belakang suku yang berbeda tapi memiliki maksud dan tujuan yang sama, cabut, tengah asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ryan sang pelopor, karena memang ia makhluk paling besar di kelompok kami saat itu, tak heran kami menjuluki si Makassar itu “gajah”, tertidur di pojok ruangan. Menikmati sejuknya hawa pendingin ruangan, pulas.

Read the rest of this entry »