Di luar sana sang surya mulai terik menyinari, masih tanpa awan yang menghalangi. Di dalam ruangan penuh buku, tujuh manusia ajaib dengan latar belakang suku yang berbeda tapi memiliki maksud dan tujuan yang sama, cabut, tengah asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ryan sang pelopor, karena memang ia makhluk paling besar di kelompok kami saat itu, tak heran kami menjuluki si Makassar itu “gajah”, tertidur di pojok ruangan. Menikmati sejuknya hawa pendingin ruangan, pulas.

Beberapa meter darinya Erick melakukan kegiatan yang sama. Laki-laki Manado ini sebenarnya berencana tidur di dekat Gajah, ingin menikmati juga sejuknya pendingin udara.

“Sono-an lo Kol, bau!!”

“Sialan lo jah…” dumelnya sambil beringsut menjauh. Kami hanya tersenyum dibuatnya, beberapa teriak meng-iya-kan.

Apa daya bau keringat membuat dirinya terusir dari kesejukan duniawi. Ada yang dapat dipetik dari sini, “AC dan bau badan harus dipisahkan…” Beberapa dari kami menonton televisi, sedang saya hanya memperhatikan mereka sambil sesekali memejamkan mata.

“Kalian ngapain di sini? Kenapa tidak masuk kelas?” lagi-lagi Wicay, guru kesayangan (bukan dalam arti yang sesungguhnya), tanpa kami ketahui sudah masuk ke perpustakaan.

“Lha, tadi kan saya disuruh ke sini pak, ya saya ke sini…” kali ini Sura yang berbicara. Pria asal Bali ini mewakili Gajah yang masih tekun dengan tidurnya, dengkurnya… luar biasa kerasnya.

“Kalian masuk ke kelas masing-masing, sekarang!”

“Ya, elah.. Jangan sekarang deh pak, malu saya masuk di tengah jam pelajaran.” jawab Panji dengan segera.

Memang kami semua sudah bertekad dari awal untuk tidak masuk sekolah hari itu, sudah bulat, bolos sekolah.

“Ya sudah, setelah habis jam pelajaran ini, kalian masuk kelas!” diseram-seramkan, tapi ternyata tidak cukup menakutkan kami. Ditingalkannya kami.

Bel tanda jeda antar pelajaran sudah berbunyi entah sampai berapa kali, namun kami masih tetap di sana, perpustakaan sekolah. Saling bicara, mencela, bercanda. Sayang kartu domino tertinggal di Sawin, jika ada pasti kami sudah asyik bermain. Ryan, masih pulas.

Sampai suatu ketika seorang guru berkerudung, bermuka khas dengan gigi sedikit (*maaf) maju mendatangi ruangan penuh buku tersebut, salah seorang guru BP di sekolah kami.

“Ayo! Kalian semua ke ruangan saya!”

Kami hanya diam, terpaku. Erick terbangun, Gajah masih tertidur, masih mendengkur.

“Ayo..!! Kalian ini buat masalah aja. Itu siapa itu yang masih tidur!!”

“Jah, bangun Jah..!!” David harus berusaha keras membangunkan, sampai ditendang-tendangnya pria berbobot lebih dari seratus kilogram itu.

Dengan terpaksa akhirnya kami meninggalkan perpustakaan, sebenarnya lebih karena bosan berada di sana. Menuju ruang BP, menuruni tangga, bahkan melewati sang Kepala Sekolah. Kami menyapanya, seperti tidak terjadi apa-apa.

-bersambung-