Siang itu sang surya terasa sangat dekat, bersinar tanpa ragu, tanpa malu-malu. Saat itu hawa terasa sangat panas, terlebih di ruangan sempit tanpa AC yang dipenuhi oleh tujuh manusia tanpa adat, ditambah dengan seorang guru kecil bersuara cempreng bukan kepalang. Guru BP, kecil orangnya, hanya separuh lebih tingginya dari Panji. Suaranya, mak… jangan pernah sekali-kali mengajak karaokean dengannya.

Hanya lima dari kami yang berhasil duduk, Panji dan Ryan hanya bisa berdiri karena minimnya kursi di ruangan itu. Panji dan Ryan, keduanya pemain basket andalan sekolah kami. Bisa dibayangkan tinggi badannya, sudah tinggi, berdiri pula. Ironi.

“Kalian kenapa disuruh masuk tidak mau?” suara guru BP memecah suasana.

Tak ada satupun dari kami yang menjawab. Saya sendiri hanya menunduk, malas melihat wajah sang guru. Erick malah kipas-kipas menggunakan buku tulis yang entah didapatnya dari mana. Bayu, menghentikan kegiatan Erick sebisa mungkin, bau aneh mengkin sudah menusuk hidungnya. Padahal tak beda dengan Erick, Bayu pun mengeluarkan aroma tak sedap, tak salah kami menjulukinya kambing, “mbek” panggilannya.

Panjang lebar kami diceramahi di ruangan itu, entah sampai berapa lama. Tak ada satupun terlihat memperhatikan. Saya masih menunduk, masih malas melihat wajahnya. David juga menunduk, menahan kantuk. Erick sudah berhenti dari kegiatannya, ganti Bayu sekarang yang kipas-kipas, bagi kami tak beda baunya.

“Ya sudah, besok saya panggil orang tua kalian ke sekolah..”

“Mampus!!” dalam hati saya memaki, tak pernah sekalipun orang tua saya mengetahui kenakalan saya. Mereka tahu saya baik-baik saja. Jika sampai hal ini diketahui, hmm… habislah saya. Bingung, takut, khawatir, perasaan campur aduk jadi satu.

“Waduh Bu… jangan dipanggil orang tua dong. Masa masalah gini aja sampe panggil orang tua..” Sura mencoba menawar.

“Iya Bu, ga usah..” Erick menambahkan.

“Kamu namanya siapa?” tampak tak menggubris tawaran sang Ibu menanyakan satu-satu nama kami.

“Gede Sura.”

“Kelas?”

“IPS Bu”

“David, IPA tiga” merasa ditunjuk David menjawab.

Satu persatu kami ditanyakan nama dan kelas masing-masing, kami menjawab, beberapa terus melakukan penawaran agar tak satupun dari kami orangtuanya dipanggil ke sekolah. Sampai pada tiba giliran saya.

“Kis Bu, IPA empat”

“Apa!? Kris!?”

“KIS…”

“Iya, Kris… Kamu kelas berapa?”

“IPA empat,” pasrah nama saya diubah guru tidak bertanggung jawab.

“Sejak kapan nama gw berubah? Kris, sial…” dalam hati saya memaki.

Yang lain tersenyum, beberapa malah tertawa, Sura bahkan sampai tak kuat menahan geli.

“Wuahahaha… Kris, kelas berapa lo Kerrrisss!!??” keras sekali Sura mengeluarkan suara.

Si guru hanya melirik.

“Besok saya panggil orang tua kalian ke sekolah. Kalian setelah ini ketemu Pak Yani”

Guru kecil berkerudung itu meninggalkan kami, menuju ruang wakil kepala sekolah. Tak lama berselang, guru itu kembali.

“Kalian ke ruangan wakil kepala sekolah, sekarang!” masih dengan suara cemprengnya.

Kami hanya bisa melongo, bertanya-tanya hendak diapakan lagi kami ini.

-bersambung-