Hampir tengah hari, sang surya tampak berada pada tempat tertinggi. Tak tersaingi benda langit lainnya, sendirian. Panasnya seakan menghukum kami yang sedang berjalan menuju ruang wakil kepala sekolah. Ruangan yang belum pernah saya masuki sebelumnya, membayangkannya pun tidak pernah.
Kami bertujuh, Saya, Sura, David, Bayu, Rian, Panji, dan Erik. Menjadi saksi dimana peraturan sekolah tidak konsisten dijalankan. Sudah jelas sebenarnya bahwa siswa yang terlambat lebih dari 15 menit tidak diperkenankan masuk. Kami, sudah lebih dari setengah jam terlambat sekolah, malah digiring masuk, diminta lari keliling lapangan basket, beruntung Rian dengan tanggap menolak. Diterlantarkan di ruang perpustakaan, bersyukur kami cukup kreatif menghabiskan waktu dengan tidur dan menonton televisi. Diceramahi di ruangan sempit, sampai diubah namanya dengan semena-mena.
“Kalian buat surat pernyataan ya?” wakil kepala sekolah mengawali pembicaraan.
“Surat pernyataan apa Pak?”
“Ya, tidak akan melakukan perbuatan ini lagi…”
Masing-masing dari kami dibagikan selembar kertas kosong, diminta untuk mengisinya. Surat pernyataan bahwa kami tidak akan melakukan perbuatan seperti ini lagi, dan apabila pernyataan kami langgar sendiri pihak sekolah berhak untuk menghukum kami sesuai ketentuan yang berlaku.
“Tidak jadi dipanggil orang tua Pak?” Rian mengajukan pertanyaan.
“Ga usah. Tapi kalo surat itu kamu langgar ya pihak sekolah bisa saja mengambil langkah itu. Ditandatangani juga ya…”
Lega… Hanya itu perasaan yang ada di diri saya. Ketegangan di hati saya sedikit mereda mendengar orang tua saya tidak jadi dipanggil ke sekolah. Dengan segera kami menulis surat pernyataan tersebut, secepat mungkin, kami sudah bosan berada di ruangan itu. Selain itu beberapa dari kami hendak melaksanakan kewajiban Sholat Jumat. Akhirnya keseluruhan surat pernyataan selesai dibuat.
“Ini tulisan siapa? kok ga ada namanya?”
“Saya Pak, Kis. Kishandono, nggak pake er” memang tulisan saya, dan saya lupa membubuhkan nama di sana, mungkin karena terlampau senang.
Setelah Pak Yani membubuhkan nama pada kertas saya, kemudian meminta salah satu dari kami untuk menggandakannya menggunakan mesin fotokopi di koperasi tidak jauh dari situ. Kami diminta untuk menyimpan kopiannya. Punya saya langsung saya masukkan ke saku baju tanpa saya lihat terlebih dahulu, saya hafal tulisan tangan saya.
Setelah dipersilakan keluar ruangan kami melakukan kegiatan kami seperti biasa. Beberapa melaksanakan ibadah Sholat Jumat, yang lain mengisi perut di kantin. Setelahnya David mengajak saya untuk keluar sekolah siang itu, cabut, lewat pintu Mesjid yang memang selalu terbuka jika Sholat Jumat telah usai. Tidak kapok dengan kejadian pagi hingga siang tadi saya pun menyetujui.
Dengan mudah kami berdua bisa keluar, menuju Sawin. Memang pintu Mesjid adalah jalan keluar paling aman dan paling mudah. Khususnya pada hari Jumat.
Di Sawin ternyata makhluk-makhluk jahanam sudah berkumpul di sana, bahkan tidak hanya kami bertujuh, mencapai belasan. Bercanda, mencela, kadang disertai makian. Beberapa bermain domino, kejadian tadi pagi seperti sudah biasa terjadi.
Saya sempatkan merenungi kejadian sebelumnya, sambil merogoh saku baju dan melihat kertas kopian pernyataan yang baru saja saya buat. Mata saya langsung menuju tulisan di bawah tanda tangan.
Kiss Handono
“Sial, lagi-lagi nama gw diganti. Nama gw Kis, es-nya satu…”
-tamat-






10 comments
Comments feed for this article
4 April 2009 pada 11:55 am
wi3nd
wahahhaa..jadi [es]na dua kis,jadina kiss
hahahha…..
dasar bandellllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll… jiaa ampyuunn tobat dech..
tapi seru seru dan lucu..
4 April 2009 pada 3:14 pm
ampun deh
jiakaka kayak merk permen
kiss
6 April 2009 pada 2:07 pm
emfajar
hahaha.. lucu lucu,, makanya jangan suka ngelanggar..
7 April 2009 pada 2:14 pm
itikkecil
sepertinya memang dirimu benar-benar tidak populer
11 April 2009 pada 1:03 pm
cantigi™
keren.. keren.. artikelnya bagus banget. saya suka.. ^_^
11 April 2009 pada 7:20 pm
bluethunderheart
sama seperti abang cantigi katakan.
keren
blue juga suka asyik koq hehhe.
malam mingguan bersama orang yg disayangi akan sangat indah
salam hangat selalu
17 April 2009 pada 11:02 am
Rindu
saya juga suka baca ini … nulis lagi mas, saya tungguin selalu
18 April 2009 pada 3:24 pm
kucingkeren
kayak laskar pelangi…seru..
22 April 2009 pada 1:23 am
warzs
salam kenal
28 Mei 2009 pada 2:35 pm
trista
Kis, dirimu masih seperti waktu jaman SMP aja yach….rasanya baru kemarin padahal sdh +/- 10 thn berselang…
Kocak bgt..Kis yg ga pernah kapok…hahahahahaa……