Siang itu sang surya seakan meredupkan sinarnya, malu-malu menggantung pucat di atas sekolah kami. Ditutupi awan dengan sangat tak sempurna, bercelah. Di depan IPA tiga, di bangku panjang penuh ukiran nama-nama pasangan, saya dan David sedang merencanakan rencana busuk kami tengah hari nanti. Bolos jam siang, cabut meninggalkan gedung sekolahan. Tak ada alasan penting sebenarnya, hanya ingin merokok dan minum es blewah buatan Emak di Sawin, sangat sederhana. Perencanaannya rumit luar biasa.

Ada beberapa cara kami meninggalkan sekolah tanpa pamit, tanpa ijin dari sekolah, tanpa secarik kertas yang harus ditandatangani oleh guru piket. Salah satunya dengan memanjat pagar tinggi yang mengelilingi bak penjara, dan sang guru laksana sipirnya, kami? tentu saja tahanannya.Ya, itu yang akan kami lakukan, memanjat pagar sekolah.

Merasa siap dengan segalanya, ketika istirahat panjang ke dua, saya dan David bertemu di depan kelas IPS, kelas terdekat dengan parkir roda dua. Kami pilih lokasi di sana karena memang paling tersembunyi, hanya tinggal menunggu saat-saat lengah satpam sekolah dan itu sangat mudah.

“Lo mau cabut ya Pit?” tiba-tiba suara Rian yang datang bersama Bayu mengganggu konsentrasi kami dalam mencari momen.

“Iya, yuk Yan cabut! Gua tunggu di luar yak?” David menimpali tanpa memalingkan wajahnya, tatapan matanya hanya menuju ke satu titik, pos satpam.

“Gua ikut lo berdua aja yak? Lompat pager” Bayu meminta ijin.

“Gua juga ikut lo dong! Pengen ngerasain gw lompat pager. Mbek, ajarin gw yak?” pinta Rian yang sedikit mustahil bagi kami mengingat bobot matinya yang lebih dari satu kwintal.

Bayu menyetujui, entah di mana logika si Kambing melihat kemungkinan berhasil hampir mustahil. Gajah, makhluk terbesar di angkatan kami cabut dari sekolah lompat pagar. Jika berhasil pasti bisa terkenal dia, masuk ke majalah sekolah, dipajang di mading-mading, populer.

“Satpamnya udah ga ada tuh! Mbek, lo duluan gih. Yan, lo ngapa ga pake surat ijin aja sih, keluar lewat gerbang?” David sedikit resah dengan situasi yang ada, di luar dari rencana yang sudah kami persiapkan dari pagi tadi.

“Gw pengen ngerasain, seumur-umur lom pernah gw” jawab Rian sembari berjalan mendekati Bayu yang sudah bersiap menaiki pagar tinggi sekolah.

Saya masih menunggu di depan IPS, saya kebagian manjadi orang yang terakhir karena memang dirasa cukup tangkas menghadapi pagar sekolahan, saya dan Bayu. David menunggu di parkir sepeda motor.

Bayu dengan sigap melompati pagar setinggi hampir tiga meter, cepat sekali, hanya sebentar saya memalingkan mata, dengan sekejap ia sudah berada di balik pagar. Rian mempersiapkan dirinya, Bayu menyemangatinya, David membantunya, Saya hanya memperhatikan mereka. Menjaga jika ada guru yang mendekat hingga bisa memperingatkan.

Secara tiba-tiba saya melihat sebuah mobil berhenti tepat di belakang Bayu berdiri, saya merasa familiar dengan mobil itu. Mobil guru Bahasa Indonesia, Pak Saefuddin. Banyak guru di dalamnya, saya tak menghitung jumlahnya, sekitar lima, mungkin lebih.

“Mbek!! Pak Sae!!” setengah berteriak saya memperingatkan Bayu, tapi tampaknya sudah terlambat.

Rian masih berada di atas pagar, dengan satu kaki di dalam dan kaki yang lainnya di luar. Posisinya lucu sekali ditambah dengan bentuk badannya yang luar biasa besar, Gajah naik pagar. Dengan wajah yang sedikit ketakutan, bukan takut terhadap guru saya yakin, melainkan takut terjerembab jatuh ke tanah.

“Mampus!!” dalam hati saya memaki, mereka tak tertolong lagi. Tertangkap tangan, basah kuyup.

David bersembunyi entah di mana, saya hanya bisa berlari meninggalkan mereka, menuju ke lapangan basket sambil berteriak:

“WOI!!! RIAN KETANGKEP!!!”

Maaf yan, hanya itu yang bisa kulakukan…