Persimpangan

Ibarat melakukan perjalanan, kehidupan kadang dihadapkan pada persimpangan. Lokasi dimana kita harus memilih jalan mana yang akan ditempuh. Tujuan kadang sama, kadang pula berbeda. Kita kadang melakukan perjalanan sendiri, kadang pula bersama sanak saudara ataupun para sahabat. Sama, di kehidupan pun seperti itu. Dalam satu mobil sering terjadi perdebatan, akan jalan mana yang harus ditempuh. Jalan yang lebih pendek, atau jalan yang sudah biasa kita lalui. Jalan pintas yang bergelombang atau jalan tol bebas hambatan yang sebelum masuk kita harus bayar.

Aku mengalaminya, sekarang. Yang kutahu tujuan akhirnya sama. Maaf, aku tak peduli lagi akan proses sekarang, yang terpenting tujuan akhir. Aku mulai terbebani dengan pilihan ini. Aku tetap berusaha mencari jalan tengah, jalanku sendiri jika saja memungkinkan. Tapi sepertinya buntu, atau malah menuju jurang dalam.

Aku capek. Terserah kalian mau mencap aku apa. Tak peduli? Lemah? Tak punya keberanian? Silakan.

Aku menunggu. Keluar dari mobil, singgah di warung pinggiran, memesan segelas kopi dan menyeruputnya. Peduli setan, ini kehidupanku.

Iklan
Categories: Essay | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: