Perlukah DPR di Indonesia?

Akhir-akhir ini kinerja DPR di Indonesia mendapat sorotan khusus. Setiap kegiatan, setiap tindak tanduk anggotanya selalu menjadi buah bibir di media. Anggota DPR seyogyanya adalah para wakil rakyat, dengan kata lain setiap anggotsa DPR bertanggung jawab kepada rakyat. Namun kenyataannya banyak anggota dewan yang justru menyalahgunakan wewenang dan jabatannya. Beberapa kasus yang terungkap sepertinya hanya sebagian kecil saja.

Sebut saja ketika salah satu anggota dewan yang tertangkap basah melihat video porno pada saat sidang. Yang lebih parah lagi adalah partai yang dia usung adalah partai yang secara keras menolak pornografi bagaimanapun bentuknya. Ironi ketika sang anggota dewan mengundurkan diri malah beliau dielu-elukan bak pahlawan bagi rekan separtainya. Namun kenyataanya beliau masih mendapat gaji dan tunjangan layaknya anggota dewan yang aktif.

Masih segar dalam ingatan kita ketika rombongan Komisi 8 mengadakan pertemuan dengan para mahasiswa di Australia. Video yang diunggah sang mahasiswa menjadi hits di situs youtube. Melalui video dapat dilihat kualitas sebenarnya dari anggota dewan negara kita tercinta ini. Video tersebut menunjukkan ketidaksiapan yang ingin ditutupi malah menjadikannya kebohongan dan setuasi yang seharusnya memalukan. Tapi pada akhirnya siapa yang tahu nasib sang staf ahli yang menyuarakan komisi8@yahoo.com selanjutnya.

Tidak akan saya bicarakan kasus korupsi yang melibatkan anggota dewan. Karena memang terlalu banyak.

Bicara soal ketua DPR, di manapun memang yang namanya ketua biasanya lebih daripada anggotanya. Tak terkecuali di DPR. Banyak statement resmi yang dikeluarkan sang ketua tidak mencerminkan layaknya seoarang wakil rakyat. Sebut saja ketika beberapa TKI kita, pahlawan devisa kita, mengalami nasib tidak beruntung di negeri seberang. Ketua DPR berkomentar bahwa pantas TKI disetrika, menganggap TKW menginginkan anak dari bapak negeri orang. Atau ketika persoalan gedung baru DPR ditanyakan oleh media, betapa sang ketua ini merasa paling pintar sehingga orang awam tidak boleh tahu menahu tentang gedung ini. Sepertinya media justru senang dengan keadaan ini, buktinya tak henti-hentinya ketua DPR ini diwawancarai agar keluar statement-statement baru yang segar. Yang justru memalukan DPR itu sendiri yang dipimpinnya.

Beberapa negara sudah membubarkan lembaga seperti ini. Terakhir yang saya ketahui beritanya adalah Singapura. Entah atas alasan apa sehingga lembaga tersebut harus diakhiri. Yang saya lihat adalah pemborosan. Selain gaji dan tunjangan juga kunjungan kerja yang dilakukan sangat tidak effisien menurut saya. Antara lain: mengunjungi Afrika Selatan untuk melihat pramuka di sana karena pramuka di sana tidak berkembang. Mempelajari budi pekerti sampai Yunani, dan masih banyak lagi kunjungan-kunjungan ke lembaga dewan yang justru dilakukan pada saat lembaga tersebut sedang reses.

Dana APBN yang tersedot untuk lembaga ini terlalu banyak, akan lebih bermanfaat ketika pembangunan gedung DPR diperuntukkan membantu sekolah-sekolah untuk pendidikan. Betapa kebutuhan sekolah-sekolah tersebut sangat jelas terlihat, kasat mata. Tapi anggota dewan melalui ketuanya malah meminta kita tidak mengobok-obok soal gedung baru DPR.

Perlukah DPR diselamatkan? Atau cukup kita mengikuti jejak Singapura?

Iklan
Categories: Essay | Tag: , | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Perlukah DPR di Indonesia?

  1. Ping-balik: Mahfud MD Lebih Suka Disebut Lulusan Pesantren | Bani Madrowi

  2. Saya sih melihat dengan berakhir lembaga ini memang bisa setidaknya menyelamatkan anggaran negara, namun saya rasa ada masalah-masalah mendalam yang akan tetap ada di negara ini meski lembaga ini berakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: